Hari ini : Selasa, 19 Mei 2026

NEWS

"Bad Vibes" Pameran Tunggal Karya Ginding Wasted

Yogyakarta - "Bad Vibes", pameran tunggal dari Gindring Wasted ini merefleksikan perkembangan karya-karya Gindring yang selama ini biasa kita lihat di media sosial maupun di jalanan. Karya-karya Gindring menggunakan simbol-simbol visual yang sepertinya nyata berada di sekitar kita, baik itu makeup, kostum, aktivitas, posisi, situasi, dan bahkan elemen setting di mana karya visual itu muncul di karya-karya Gindring.

Versus Project nomer 34 ini, menjadi sangat-sangat menarik karena Gindring menampilkan karya-karya terbarunya, tetapi masih dengan semangat kritis yang luar biasa sama. Bahkan semakin ke sini semakin kuat dan semakin lucu. Sindirannya semakin mengena tapi juga membikin orang tertawa. Membikin ironi-ironi yang sebenarnya menyentil baik untuk kalangan atas maupun kalangan bawah, seperti misalnya: Miskin cari Tuhan tapi nanti jika kaya jadi Tuhan; Ada anomaly, di masyarakat bawah hal itu adalah yang sebenarnya terjadi, secara logis bisa terjadi, secara konsep dia ada. Menurut saya, dengan kalimat yang dia coba tawarkan dengan visual yang kontra, sosok dengan muka seram mengacu pada band Misfits ataupun Kiss dengan melukisi wajahnya hitam putih, idiom-idiom setan, mengenakan baju partai, topi anak jalanan, celana pendek dengan sarung yang dikalungkan, ini anomali yang sangat luar biasa menarik ditampilkan dalam satu fragmen karya visual atau lukisan.

Juga ada beberapa karya-karya berbicara tentang demokrasi.

Sekelompok orang mengerubungi jenazah demokrasi. Demokrasi digambarkan sudah mati, tampak menjadi hal yang sangat dirindukan dan sangat dinanti, bahkan sangat dibenci mungkin, sangat diharapkan juga. Menurut saya ini sentilan yang sangat kuat, menarik, lucu, tetapi juga menyentak buat penguasa bahkan sampai Indonesia sendiri karena demokrasi yang ada di Indonesia ini masih menjadi tanda tanya yang besar. Di karya lain tampak mencermati tentang fenomena visual yang saat ini terjadi: MBG, ekonomi, premanisme dengan kedok keamanan nasional, dengan agama, dengan banyak hal yang terjadi di sekitar kita, di masyarakat Indonesia sebenarnya.

Karya-karya dengan tema-tema yang ditawarkan Gindring ini sangat unik dan menyenangkan, bermain-main, ini menjadi hal-hal yang memicu dan menyentil pikiran kita untuk kembali sadar bahwa karya-karya seni rupa yang biasanya tampil indah, mewah, bisa menjadi sesuatu. Sentilannya akan terus mengingatkan kita akan peristiwa, situasi yang bisa jadi belum selesai sampai hari ini. Hal-hal yang dicatat, direkam, divisualkan, diilustrasikan secara jenaka, secara nakal, liar dan unik, lucu, mengkritisi banyak hal. Menurut saya, ini menjadi keunggulan atau keunikan tersendiri bagi Gindring.

Selain muralis dia juga skateboardis dan juga vokalis banyak is yang dia kerjakan di antara kegiatan-kegiatan seninya. Menurut saya, karya Gindring di Versus Project kali ini, layak untuk diapresiasi dan layak untuk menjadi perbincangan bersama tentang variasi berkembangnya wacana seni rupa yang tumbuh berkembang di Jogja dan bahkan untuk wacana Indonesia.

 

Terima kasih

Mei 2026 Eko Nugroho

OHTER POST